Monday, November 21, 2016

Sayang Anak.. Sayang Anak..

Baiklah dengan kesibukan yang baru saya, akhirnya saya tidak akan bisa mengupdate blog lagi secara rutin. Ini mumpung bisa update, saya coba update dengan topik yang sudah saya coba telusuri lebih dalam tentang gaya hidup perkotaan dimana mengurus anak sudah bukan prioritas utama karena urgensi mencari kestabilan ekonomi dinilai lebih penting. Marilah kita bahas.

Anak adalah karunia dari Tuhan. Ya, hal ini tak perlu didebat. Berbagai kubu-pun pasti setuju dengan hal tersebut. Tapi lalu karunia Tuhan ini diapakan? Itu yang jadi pertanyaan. Beberapa responden menjawab berbeda-beda. Saya bagi menjadi kedua kubu.

KUBU 1: RAWAT SENDIRI

Telah disebutkan bahwa anak adalah karunia dari Tuhan. Lalu bagi yang berpegang pada kubu ini merasa keperluan untuk merawat anak sendiri, tidak diserahkan kepada orang lain. Alasannya juga bermacam, namun ketika saya simpulkan kira kira seperti ini; Yang benar-benar mengerti dan bertanggung jawab pada anak adalah orang tuanya. Segala perbuatan kepada anak dalam masa perkembangannya akan membentuk pribadi anak tersebut untuk ke depannya. Apalagi masa-masa sebelum umur 6 tahun adalah masa-masa yang krusial.

Mereka merasa hal sebesar itu tidak mungkin dititipkan ke orang lain. Orang lain seperti pembantu yang merawat hanya karena dibayar tanpa cinta kasih. Ke kakek neneknya yang sangat menyayangi dan mengabulkan semua permintaan sang bocah. Mereka merasa punya anak berarti bertanggung jawab membentuk pribadi tersebut menjadi pribadi yang baik, atau setidaknya tidak jahat. Masuk akal bukan? Bagaimana hal sebesar itu bisa dititipkan ke orang lain?

Mereka merasakan sangat perlu bahwa salah satu dari orang tua ada di rumah. Atau apabila harus bekerja, lakukan dari rumah. Karena fokus untuk merawat anak adalah salah satu tugas orang tua. Agar anak merasa orang tuanya adalah dia, bukan pembantu, bukan kakek nenek, bukan saudara.

KUBU 2: TITIP

Kubu yang ini lebih bersifat realistis. Kestabilan ekonomi harus dinilai lebih penting. Apa gunanya rawat anak baik-baik tapi tidak bisa menyekolahkan? Apa gunanya rawat anak tapi ga bisa kasih makan? Memang cinta bisa dimakan?

Kedua orang tua yang bekerja tentu membawa pemasukan lebih besar bagi keluarga. Apalagi yang ada himpitan ekonomi pasti mau tidak mau kedua orang tua mesti bekerja demi memenuhi kebutuhan yang tidak murah di kota metropolitan seperti Jakarta.

Ada juga yang mengatakan agar adanya kesetaraan antara suami istri. Agar salah satu pihak tidak merasa superior dan menindas yang satunya. Namun juga sebagai pencegah apabila pihak pemberi nafkah meninggal, maka harus ada yang mengambil alih tulang punggung keluarga. Apabila salah satu tidak bekerja, tentu akan sangat kesulitan.

Alasan yang cukup masuk akal. Namun yang lebih penting lagi, anak dititipkan kepada orang yang dipercaya seperti saudara dan kakek nenek yang tidak akan menculik anak. Apalagi mereka juga berhubungan darah pasti akan merawatnya seperti merawat anaknya sendiri. Sementara itu orang tua bisa fokus untuk mencari nafkah.

Hemm kedua kubu sebenarnya cukup masuk akal. Yang satu menitikberatkan ke psikologis anak dan tanggung jawab, sedangkan satulagi menitikberatkan pada ekonomi dan kesetaraan. Silahkan dipikirkan masing-masing dan anda dapat menjawab di comment di bawah. Apabila anda mau membuat kubu ketiga juga diperbolehkan. He he he.

Sunday, November 6, 2016

Peka dan Peduli

Peka dan Peduli.

Apa itu peka? Apa itu peduli? Beberapa orang memiliki persepsi yang sama kepada kedua kata ini. Namun menurut saya, terdapat perbedaan yang mendasar. Berikut nih arti kata peka menurut kbbi.web.id : 

peka/pe·ka/ /p├ęka/ a 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dan sebagainya)

sedangkan arti kata peduli menurut kbbi.web.id : 

peduli/pe·du·li/ v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan

Oke. Demikian menurut KBBI. Saya sendiri berpikir tidak jauh dari KBBI tersebut. Marilah kita bahas satu persatu antara peka dan peduli.

Peka.
Peka adalah kata-kata makian apalagi untuk lelaki pada era sekarang ini. "Ga peka lu!" begitulah teman-teman saya juga suka mengatakannya. Untuk saya peka ini memiliki arti menyadari keadaan dan/ atau perasaan seseorang. Misalnya kamu tau maksud-maksud tersembunyi dari seseorang yang baik kepada kamu. Atau kamu tau teman kamu lagi kesusahan dengan melihat ekspresi wajahnya. Mungkin hal ini bisa disebut insting atau intuisi. Namun untuk logikawan yang ada di luar sana, menjadi peka dapat dicapai juga dengan sangat observant. Perhatikan tanda-tandanya maka kamu akan mengetahui apa yang sedang terjadi.

Peduli
Peduli merupakan kelanjutan dari kata peka tersebut. Kamu sudah menyadari sesuatu, apakah kamu cukup peduli untuk melakukan sesuatu? Ya, peduli berarti kamu cukup concern dengan suatu permasalahan dan ingin memberi bantuan. Terkadang justru yang penting di sini karena ketika kamu sadar orang butuh pertolongan tapi tak membantu, maka itu akan jadi sia-sia saja. Kalau menurut saya, berbeda dengan peka, peduli sulit untuk dilatih. Butuh empati dan perasaan ingin merankul orang kesusahan dahulu baru kamu akan bisa merasakan peduli.

Pentingkah peka dan peduli?
Ya tergantung. Kamu mau jadi orang baik yang peduli sesama apa tidak. Kedua unsur itu sangat beguna bagi kamu sebagai individu yang suka membantu orang. Kalau ditanya mana yang lebih penting, keduanya sama penting. Tak ada gunanya kalau kamu tau orang lain usah tapi tak mau membantu. Sebaliknya tak ada guna kalau kamu suka membantu tapi ga pernah sadar kesusahan orang lain. Kedua unsur ini harus berjalan berkesinambungan agar dapat mengdapatkan efek maksimal.

Bagaimana kalau tidak peka dan tidak peduli?
Latihan saja. Pelajari apa maksud dari teman-teman kamu selama mengobrol. Coba lihat apakah ada orang yang lagi kesusahan? Naluri manusia pasti dapat memahami keadaan oang lain yang sedang bersusah. Namun ada sifat denial yang tak mau repot dan tak mau terlibat serta takut kegeeran dan salah. Stop lah semua itu. Belajar untuk bertanya. "Lu lagi kenapa?" pertanyaan simple seperti itu cukup. Apabila dia lagi bersusah, maka dia akan merasa tertolong karena dipedulian. Dan bila tidakpun dia akan tetap merasa diperhatikan karena kamu telah menunjukkan kepedulian.

Jadi setelah mengetahui kita harus langsung bertindak?
Tidak selalu. Memang benar unsur peduli biasanya dibarengi dengan tindakan. Namun kadangkali untuk tidak terlibat jauhpun juga merupakan opsi yang lebih baik. Contohnya ikut campur urusan rumah tangga orang. Atau ketika memang seseorang sedang butuh menyendiri. Kadangkali kamu tidak perlu terlibat lebih lanjut. Ingatlah bahwa orang pintar dapat tepat dan cepat memilih hitam atau putih. Sedangkan dunia orang bijak terdiri dari banyak abu-abu namun dia bisa memilih opsi yang paling sesuai.

Hokeee sekian dulu deh post nya. Sampai jumpa minggu-minggu depan ya.

Sunday, October 23, 2016

Pernikahan Dini

Hokehh sebelum menjelaskan apa maksud dan tujuan judul post ini seperti telenovela indonesia jaman 2000 awal, saya akan sedikit bercerita dulu tentang latar belakangnya..

Ya dalam 1 bulan terakhir ini, saya sudah mampir ke tiga acara pernikahan. TIGA. Dan masing-masing dari pernikahan tersebut memberikan cerita sendiri buat sayaaa. Sebenarnya sih tahun ini ada empat tapi satu okelah tidak begitu kenal dengan yang nikah.

OKEE mulai dari yang pertama yah. Dan orang pertama yang beruntung adalah... teman SMA saya. Sebut saja Klereng. Klereng ini wanita seusia dengan saya.. tahun ini 24 tahun. Dahulu waktu SMA klihatan anak baik-baik yang terkesan cupu gitu. Kerjanya belajar dan memang dia langganan juara kelas. TRUS SETELAH LULUS KULIAH TIBA TIBA UDAH NIKAH. Ni anak jadi pembuka jalur bagi anak IPA angkatan saya. Hahahaha. Gila boro-boro ya 24 udah nikah. Ane aja pacar belum ada. Tapi saya tetap berbahagia dan mendoakan yang terbaik bagi dia. Hehehe.

Yang keduaaaaa adalaaaah darah daging saya sendiri. Tapi bukan anak, melainkan saudara. Hahahaha. Bukan saudara kandung, bukan saudara sepupu, melainkan keponakan.. Eh bukan saudara ya. Apa tuh namanya. Jadi yang ini kita kodekan Karung. Si Karung ini juga wanita, tapi lebih tua dari saya, yakni 26 tahun. Saya suka ke rumah dia ketika hari raya. Hehehe. Memang mereka pacaran sudah lama. Tapi keponakan cuui. Keponakan saja uda nikah. Dan kebetulan nikahnya sehari setelah si Klereng. Yah tetap berasa WOW gitu orang yang ketemu tiap tahun sekarang tiba tiba sudah nikah juga. Ada rasa aneh tersendiri hahaha.

Yang ketigaa sebenarnya saya tidak ada hubungan langsung dengan yang menikah. Namun saya teman baik dengan saudari dari mempelai pria dan kebetulan ada undangan lebih hehehe. Kalau sebelum-sebelumnya wanita, kali ini yang nikah adalah pria, yakni Kumbang (nama samaran juga). Kumbang ini pria, berumur sekitar 26 atau 27 tahun. Mempelai wanitanya berumur... kurang tau karena saya tidak kenal. Lol.

Apa hubungannyaaaa ketiga pernikahan tersebuuut? Jadi gini. Ada sedikit latar belakang lagi. Saya berdiskusi dengan teman saya tentang pernikahan. Ada tercetus jaman sekarang orang males nikah dulu. Bener dong. Mending sama orang tua sambil kita ngumpul duit dulu. Nanti setelah umur 30 baru nikah. Saya yang awalnya tidak setuju mulai berpikir realis kalau memang biaya hidup di kota mahal. Mending kumpul duit dulu lalu baru nikah daripada ntar ada anak yang tak diingini. Nahh ketiga pernikahan ini membuat kesimpulan diskusi dari saya dan teman saya salah. Masih ada kok yang mau menikah di pertengahan 20an. Hehehehe. Saya dulu pas bocah ada rencana menikah umur 25. Sekarang seakan hanya angan-angan Hahaha. Kalian sendiri mau menikah umur berapa blogs?