Wednesday, February 1, 2017

Ranking DH periode 2012-2013

Rank DH per Desember 2012:
1. Xxx
2. Xxx
3. Xxx
4. Xxx
5. Xxx
6. Xxx
7. Xxx
8. Xxx
9. Xxx
10. Xxx
11. Xxx
12. Xxx
13. Xxx
14. Xxx
15. Xxx
16. Xxx
17. Xxx
18. Xxx
19. Xxx
20. Xxx
21. Xxx
22. Kerygma

Rank DH per Desember 2013:
1. Xxx
2. Xxx
3. Xxx
4. Xxx
5. Xxx
6. Xxx
7. Xxx
8. Xxx
9. Kerygma
10. Xxx
11. Xxx
12. Xxx
13. Xxx
14. Xxx
15. Xxx
16. Xxx
17. Xxx
18. Xxx
19. Xxx
20. Xxx
21. Xxx
22. Sekretaris Umum

Monday, November 21, 2016

Sayang Anak.. Sayang Anak..

Baiklah dengan kesibukan yang baru saya, akhirnya saya tidak akan bisa mengupdate blog lagi secara rutin. Ini mumpung bisa update, saya coba update dengan topik yang sudah saya coba telusuri lebih dalam tentang gaya hidup perkotaan dimana mengurus anak sudah bukan prioritas utama karena urgensi mencari kestabilan ekonomi dinilai lebih penting. Marilah kita bahas.

Anak adalah karunia dari Tuhan. Ya, hal ini tak perlu didebat. Berbagai kubu-pun pasti setuju dengan hal tersebut. Tapi lalu karunia Tuhan ini diapakan? Itu yang jadi pertanyaan. Beberapa responden menjawab berbeda-beda. Saya bagi menjadi kedua kubu.

KUBU 1: RAWAT SENDIRI

Telah disebutkan bahwa anak adalah karunia dari Tuhan. Lalu bagi yang berpegang pada kubu ini merasa keperluan untuk merawat anak sendiri, tidak diserahkan kepada orang lain. Alasannya juga bermacam, namun ketika saya simpulkan kira kira seperti ini; Yang benar-benar mengerti dan bertanggung jawab pada anak adalah orang tuanya. Segala perbuatan kepada anak dalam masa perkembangannya akan membentuk pribadi anak tersebut untuk ke depannya. Apalagi masa-masa sebelum umur 6 tahun adalah masa-masa yang krusial.

Mereka merasa hal sebesar itu tidak mungkin dititipkan ke orang lain. Orang lain seperti pembantu yang merawat hanya karena dibayar tanpa cinta kasih. Ke kakek neneknya yang sangat menyayangi dan mengabulkan semua permintaan sang bocah. Mereka merasa punya anak berarti bertanggung jawab membentuk pribadi tersebut menjadi pribadi yang baik, atau setidaknya tidak jahat. Masuk akal bukan? Bagaimana hal sebesar itu bisa dititipkan ke orang lain?

Mereka merasakan sangat perlu bahwa salah satu dari orang tua ada di rumah. Atau apabila harus bekerja, lakukan dari rumah. Karena fokus untuk merawat anak adalah salah satu tugas orang tua. Agar anak merasa orang tuanya adalah dia, bukan pembantu, bukan kakek nenek, bukan saudara.

KUBU 2: TITIP

Kubu yang ini lebih bersifat realistis. Kestabilan ekonomi harus dinilai lebih penting. Apa gunanya rawat anak baik-baik tapi tidak bisa menyekolahkan? Apa gunanya rawat anak tapi ga bisa kasih makan? Memang cinta bisa dimakan?

Kedua orang tua yang bekerja tentu membawa pemasukan lebih besar bagi keluarga. Apalagi yang ada himpitan ekonomi pasti mau tidak mau kedua orang tua mesti bekerja demi memenuhi kebutuhan yang tidak murah di kota metropolitan seperti Jakarta.

Ada juga yang mengatakan agar adanya kesetaraan antara suami istri. Agar salah satu pihak tidak merasa superior dan menindas yang satunya. Namun juga sebagai pencegah apabila pihak pemberi nafkah meninggal, maka harus ada yang mengambil alih tulang punggung keluarga. Apabila salah satu tidak bekerja, tentu akan sangat kesulitan.

Alasan yang cukup masuk akal. Namun yang lebih penting lagi, anak dititipkan kepada orang yang dipercaya seperti saudara dan kakek nenek yang tidak akan menculik anak. Apalagi mereka juga berhubungan darah pasti akan merawatnya seperti merawat anaknya sendiri. Sementara itu orang tua bisa fokus untuk mencari nafkah.

Hemm kedua kubu sebenarnya cukup masuk akal. Yang satu menitikberatkan ke psikologis anak dan tanggung jawab, sedangkan satulagi menitikberatkan pada ekonomi dan kesetaraan. Silahkan dipikirkan masing-masing dan anda dapat menjawab di comment di bawah. Apabila anda mau membuat kubu ketiga juga diperbolehkan. He he he.

Sunday, November 6, 2016

Peka dan Peduli

Peka dan Peduli.

Apa itu peka? Apa itu peduli? Beberapa orang memiliki persepsi yang sama kepada kedua kata ini. Namun menurut saya, terdapat perbedaan yang mendasar. Berikut nih arti kata peka menurut kbbi.web.id : 

peka/pe·ka/ /p├ęka/ a 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dan sebagainya)

sedangkan arti kata peduli menurut kbbi.web.id : 

peduli/pe·du·li/ v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan

Oke. Demikian menurut KBBI. Saya sendiri berpikir tidak jauh dari KBBI tersebut. Marilah kita bahas satu persatu antara peka dan peduli.

Peka.
Peka adalah kata-kata makian apalagi untuk lelaki pada era sekarang ini. "Ga peka lu!" begitulah teman-teman saya juga suka mengatakannya. Untuk saya peka ini memiliki arti menyadari keadaan dan/ atau perasaan seseorang. Misalnya kamu tau maksud-maksud tersembunyi dari seseorang yang baik kepada kamu. Atau kamu tau teman kamu lagi kesusahan dengan melihat ekspresi wajahnya. Mungkin hal ini bisa disebut insting atau intuisi. Namun untuk logikawan yang ada di luar sana, menjadi peka dapat dicapai juga dengan sangat observant. Perhatikan tanda-tandanya maka kamu akan mengetahui apa yang sedang terjadi.

Peduli
Peduli merupakan kelanjutan dari kata peka tersebut. Kamu sudah menyadari sesuatu, apakah kamu cukup peduli untuk melakukan sesuatu? Ya, peduli berarti kamu cukup concern dengan suatu permasalahan dan ingin memberi bantuan. Terkadang justru yang penting di sini karena ketika kamu sadar orang butuh pertolongan tapi tak membantu, maka itu akan jadi sia-sia saja. Kalau menurut saya, berbeda dengan peka, peduli sulit untuk dilatih. Butuh empati dan perasaan ingin merankul orang kesusahan dahulu baru kamu akan bisa merasakan peduli.

Pentingkah peka dan peduli?
Ya tergantung. Kamu mau jadi orang baik yang peduli sesama apa tidak. Kedua unsur itu sangat beguna bagi kamu sebagai individu yang suka membantu orang. Kalau ditanya mana yang lebih penting, keduanya sama penting. Tak ada gunanya kalau kamu tau orang lain usah tapi tak mau membantu. Sebaliknya tak ada guna kalau kamu suka membantu tapi ga pernah sadar kesusahan orang lain. Kedua unsur ini harus berjalan berkesinambungan agar dapat mengdapatkan efek maksimal.

Bagaimana kalau tidak peka dan tidak peduli?
Latihan saja. Pelajari apa maksud dari teman-teman kamu selama mengobrol. Coba lihat apakah ada orang yang lagi kesusahan? Naluri manusia pasti dapat memahami keadaan oang lain yang sedang bersusah. Namun ada sifat denial yang tak mau repot dan tak mau terlibat serta takut kegeeran dan salah. Stop lah semua itu. Belajar untuk bertanya. "Lu lagi kenapa?" pertanyaan simple seperti itu cukup. Apabila dia lagi bersusah, maka dia akan merasa tertolong karena dipedulian. Dan bila tidakpun dia akan tetap merasa diperhatikan karena kamu telah menunjukkan kepedulian.

Jadi setelah mengetahui kita harus langsung bertindak?
Tidak selalu. Memang benar unsur peduli biasanya dibarengi dengan tindakan. Namun kadangkali untuk tidak terlibat jauhpun juga merupakan opsi yang lebih baik. Contohnya ikut campur urusan rumah tangga orang. Atau ketika memang seseorang sedang butuh menyendiri. Kadangkali kamu tidak perlu terlibat lebih lanjut. Ingatlah bahwa orang pintar dapat tepat dan cepat memilih hitam atau putih. Sedangkan dunia orang bijak terdiri dari banyak abu-abu namun dia bisa memilih opsi yang paling sesuai.

Hokeee sekian dulu deh post nya. Sampai jumpa minggu-minggu depan ya.